***
"Hmm.. tempat yang lumayan..
kumuh," gumam seorang guru muda yang sedang menelusuri jalan di sebuah
desa tempat ia akan mengajar. Wajar saja kalo Donghae-nama guru muda itu-
berkata seperti itu. Selama ini, dia tinggal di sebuah komplek di kota yang
lumayan elite. Pokoknya gitu deh, asri, bersih, bagus, gak kayak tempat ini.
"Tak usah aku pikirkan keadaan tempat
ini. Yang harus kupikirkan adalah rumahku selama di sini. Kalo gak, aku gak
bakal punya rumah disini. Jadi gelandangan dong gue." ujar Hae pada
dirinya.
Tiba-tiba...
"Maaf, apa benar anda guru baru yang
akan mengajar di sini?" suara manja, eh namja, berlesung pipit itu
mengagetkan Hae.
"Ah, ne! Lee Donghae imnida. Panggil
aja Hae," jawab Hae sambil tersenyum manis.
"Oh, Hae. Park Jungsu imnida. Aku
kepala sekolah dari sekolah itu"
"Ne. Ngomong-ngomong, aku harus
memanggilmu apa? Ahjussi?" tanya Hae takut-takut. Dia takut Leeteuk
tersinggung dipanggil Ahjussi.
"Aniyo! Kau panggil saja hyung,
Leeteuk hyung. Gini-gini saya masih muda loh, hohoho!" jawab Leeteuk
narsis senarsis narsisnya. Padahal umurnya udah lumayan tuir *digaplok Angels*
"-___-" kurang lebih ekspresi Hae
seperti itu. Mata sipit tinggal segaris, bibir datar tipis. Bayangin aja *gaje,
abaikan*
"Ne, Leeteuk hyung!" seru Hae
sambil tersenyum.
"Bagus! Kamu akan mengajar mulai besok
ya, Hae. Tenang ae, muridnya baik-baik kok, say(?)"
"Ne, hyung. Ah ne~ maaf hyung, aku mau
istirahat dulu ya?"
"Oh, baiklah. Dadaaah~"
Haa
jahat sekali. Masa gak dikasih tau rumah sementaraku di sini, batin Hae.
"WOOOOI LEETEUK HYUNG!!" teriak
Hae. Tapi Leeteuk terus aje jalan sambil nyanyi-nyanyi Keong Racun terus sambil
joget-joget ala bapak-bapak dangduters.
YA
AMPUN SABAR GUE MAH! GAK DIURUSIN, SEDIH BANGET DAH, batin Hae.
"OOOOI LEETEUK HYUNG! ADA CEWE CANTIK
BOHAI SEXY HOT!!" teriak Hae. Tak lama, ada seorang nenek-nenek lewat di
depan Hae. Nenek itu merasa geer karena dikira cewe yang dimaksud Hae adalah
nenek itu. #abaikan
"MANAAA?? MANA HAEEEEE???"
Leeteuk goyang-goyangin badan Hae sampe iler Hae kemana mana *peace
"Tuh di diskotik sono. Aku mau
istirahat. Aku istirahat dimana? Rumah sementaraku dimana ya, hyung?"
tanya Hae.
"Yaelah si elu, kagak ada cewe ye. Ya
udah lah. Kagak tau eike. Tanya kepala desa aja sono. Udah ya, eike mau bobo
cyinn~ babaaaaay~" Leeteuk pun melambai lambaikan tangannya genit.
*ni kepala sekolah rada sarap ye*
Hae pun langsung menuju kantor kepala
desa...
*keesokan harinya*
Hari ini, hari pertama Hae mengajar. Hae
Matematika murid-murid kelas 1 SMP.
"Annyeong haseyo~ Lee Donghae imnida. Aku
guru baru di sini. Kalian bisa memanggilku Donghae. Gak usah pake songsaenim
oke? Aku akan mengajar matematika di sini," Hae memperkenalkan diri kepada
murid-murid tersebut.
...
Hening. Krik._. Ada yang memainkan pensil,
menatap Hae dari ujung rambut ampe ujung kuku kaki, eh sepatu deng. Kukunya gak
keliatan kan. Ada juga yang bengong sambil ngences, banjir iler pun terjadi(?)
dan menggemparkan dunia *apadeh author gaje
"Karena aku belum mengenal kalian,
jadi perkenalkan diri kalian dulu ya. Yang lain harap diam. Mulai dari yang
diujung sana," tunjuk Hae sambil tersenyum manis.
...
"KYAAAAAAAAA!!!!"
Siswi-siswi pun berteriak karena terpesona
dengan senyuman manis nan jitu milik Donghae *TELAT WOOOOOY!!* Hae kebingungan.
Dia garuk garuk pantat eh rambutnya yang gak gatel. Sampe akhirnya...
"Husssss husss!! *dikira ngusir kucing
yak-_-* ada apa ini? Ah, Lee Donghae-ssi?" seorang guru cewe masuk ke
kelas.
"Ne," jawab Donghae.
"Lee Donghae-ssi, aku ingin meminta
biodata mu. Aku sedang mendata guru-guru di sini,"
"Baiklah. Panggil saya, Donghae oppa
ya. Kau lebih muda kan? Anak-anak! Baca pelajaran pertama dulu ya di buku cetak
masing-masing!"
"BAIK DONGHAEEEEE!!"
Donghae pun keluar dengan guru tersebut. Ia masih muda, gadis sepertinya.
"Baik. Donghae oppa, tanggal berapa
kau lahir?"
"15 Oktober 1986"
Sesi tanya jawab(?) pun berlangsung sekitar
5 menit. Dan akhirnya... Donghae merasa dia mulai tertarik dengan perempuan
tersebut.
"Boleh aku bertanya?" tanya Hae.
"Oh, tentu saja!"
"Siapa namamu?"
"Han Seo Ah, oppa. Waeyo?"
"Gapapa, hehehe. Sudah selesai
kah?"
"Sudah oppa! Kau boleh balik ke
kelas" Seo Ah berkata sambil tersenyum.
Omo!
Omooooo!! Manis sekali senyumnyaaa! Aku deg-degan. Apa aku menyukainya? Masa
sih? Cinta pada pandangan pertama? Ah
jangan terburu-buru, Lee Donghae! Nanti kejadian masa lalu terulang lagi, batin Hae.
~flashback~
"Kim
Min Ah!" teriakku.
"Mwo?? Kau mau apa?? Apa penjelasanku belum cukup??
Selama ini aku tidak mencintaimu!!" teriak MinAh dengan raut kesal.
"Kenapa?
Kau bohong padaku!"
"Ne!
Maka dari itu, aku akan pergi meninggalkanmu daripada terus menyakitimu.
Sebagai manusia, aku juga punya rasa tega. Sekali lagi, AKU TIDAK MENCINTAIMU!
BAHKAN AKU MEMBENCIMU! AKU HANYA MEMPERMAINKANMU! HAHAHA!! ELOH GUEH
END(?)!!" teriak MinAh sambil berlalu.
Aku
menangis. Ternyata selama ini, yeoja yang kucintai itu tidak mencintaiku. Yeoja
tersebut malah mencintai pria lain. Dia hanya mempermainkanku. Sungguh kejam
yeoja itu. Apa salahku sampai ia mempermainkanku gitu? Aku sakit hati. Aku
tidak akan kembali padanya bahkan jika dia ingin kembali padaku.
~flashback gaje end~
"Ah, ne, Seo Ah. Dadah"
Donghae tersenyum sambil melambaikan tangannya dan balik ke kelas.
"CIEEEEE DONGHAE NGAPAIN TUH SAMA HAN
SONGSAENIM?? CIEEEEE KIWWW!!!" salah satu anak bandel kurang ajar dekil
ingusan(?) yang bernama Kyuhyun ngejek Donghae. *just for fun ya sparKYUUUU ^^v
"Tanya jawab doang sih yeee. Iri yaaa?
Weeeekk!!!" Donghae balik ngeledek murid itu; pantat diewal-ewolin(?) ke
Kyuhyun, terus nepok-nepok pantatnya sendiri, julurin lidah. Et dah, murid ama
guru sama aje ye. Kyuhyun pun memilih untuk diam ._.
***
~Donghae
POV~
"Seonnie!"
"Hmm?" Seonnie menengok padaku.
Kebetulan, itu sudah sore. Hanya tinggal aku dan Seonni.
"Bapak eneng tukang gula yah?"
tanyaku.
"Kok abang tau?"
"Iya soalnya eneng manis banget
sih!"
"Eaa si abang. Bisa aja ah bang!"
seru Seonni malu-malu.
Oh ya! Aku memang lagi PDKT sama Seonni.
Jadi deket banget gitu deh.
"Seonni~"
"Ne?"
"Mau jalan-jalan ke kota gak neng
bareng aku? Besok kan libur"
"Mau Oppa! Tapi Seonni bilang appa
dulu ya! Anterin dong oppa" pinta Seonni.
"Ekhm.." kami berdua pun langsung
salah tingkah ketika mengetahui masih ada seorang guru di tempat ini. Dia
adalah Eunhyuk. Dia sahabatku di sini.
"Jadi... Kau berselingkuh dibelakangku
ya?" tanya Hyukkie dengan mata berkaca-kaca.
"Ani... Bukan begitu, Hyukkie,"
bantahku.
"J.. Jadi.. Kalian berdua.. H-,"
begitu mendengar kekagetan Seonni, aku langsung memotong omongan Seonni sebelum
dia salah paham.
"Ya~! Jangan salah paham Seonni. Aku
hanya bercanda" ujarku sambil mengusap kepala Seonni.
"Pabo! Hyukkie! Karna kau, Seonni
hampir saja salah paham terhadapku!" akupun menjitak Hyukkie. Yang dijitak
hanya bisa meringis kesakitan.
"Ya~ kau juga salah dong. Siapa suruh
kau menjawab pertanyaanku dengan raut serius seperti itu. Eh btw, kalian sedang
PDKT ya?" Hyukkie membantah sekaligus meluncurkan pertanyaan yang sukses
membuat muka kami -Aku dan Seonni- memerah.
"Ya~ kalian bener sedang PDKT? Kenapa
wajah kalian berdua memerah? Hahahaha" Hyukkie tertawa terbahak bahak.
"Ya begitulah... Sudahlah. Aku pulang
duluan ya Hyuk! Ayo pulang Seonni,"ajakku.
"Ne, oppa"
Ya udah deh. Sore itu juga, aku boncengin Seo
Ah di motor vespa antikku. Hyukkie juga sudah pulang. Ketika sampai dirumah Seo
Ah.
"Assalamu'alaikum. Appa! Seo Ah
jalan-jalan ke kota yaak bareng Fishae oppa!" Seonni pun menarikku masuk
ke dalem rumah. Sebenernya aku agak kaget. Fishae? Itu aku?
"Assalamu'alaikum..." gue kaget!
Gue shock!! Shock seshock-shocknya. Appanya Seo Ah itu Leeteuk hyung?? Jadi
Leeteuk hyung sebenernya udah punya anak?? Cemana ni!
"Walaikumsalam. Fishae itu siapa? Oh
Donghae! Boleh-boleh. Tapi jaga anakku ya!" jawab Leeteuk hyung tersenyum
ketika mengetahui Fishae itu adalah aku.
"Baik, hyung!"
"Hyung?" tanya Seonni heran.
"Leeteuk hyung yang menyuruhku
memanggilnya hyung," jawabku. Seonni bingung.
"Oh ya hyung, aku boleh menginap di
kota 3 hari bareng Seonni? 3 hari kan liburnya?" tanyaku.
"Boleh saja. Asal jangan ngapa-ngapain
ya. Anakku ini masih perawan. Jangan ampe perawannya ilang gara-gara elu ye,
gue gorok leher lu kalo perawannya ilang gara-gara elu,"
"N.. Ne, hyung!!" Leeteuk hyung
serem banget!!
Seonni pun pamit untuk membereskan
keperluan2nya dan memasukannya ke koper. Tiba-tiba, seorang wanita -sepertinya
ibu-ibu- masuk ke dalam rumah.
"Yeobo!" teriak Leeteuk hyung.
Aku yang duduk di sofa langsung menyadari bahwa itu adalah eommanya Seonni.
"Aigo~ Yeobo! Kau masih tetap tampan
seperti terakhir aku melihatmu!" seru eommanya Seonni.
"Eh? Nuguya?" tanya ahjumma
kepadaku.
"Lee Donghae imnida" aku
membungkuk memberi salam.
"Ah ya, yeobo. Dia gebetan anak kita, Seo
Ah! Dia ingin mengajak Seo Ah berlibur ke kota, 2 hari! Dia juga guru seperti Seo
Ah," jelas Leeteuk.
"Oh! Lee Donghae~ Kim Young Woon
imnida. Kau boleh memanggilku Kangin noona,"
Aigo~ ternyata suami istri sama saja ya!
"Seo Ah udah siap! Seo Ah berangkat
yaa! Waah, eomma!" Seo Ah terlihat sumringah melihat eommanya yang baru
datang dari luar negeri itu. Seonni pun langsung memeluk eommanya.
"Eomma, appa sudah jelaskan kan apa
yang mau aku lakukan? Boleh kan eomma? Boleh yaa?" Seonni memasang puppy
eyes-nya dan tersenyum manis. Aigo~ jantungku! Jangan loncat loncatan kemana
mana! Tetap di tempat!
"Ne, ne. Tapi kau jaga diri yaa.
Donghae, aku percaya padamu untuk menjaga anakku. Arraseo?," pesan Kangin
ahjumma, eh, noona kepadaku.
"Ne, arra." jawabku sambil
tersenyum.
"Hm. Baiklah. Eomma, Appa, aku
berangkat dulu ya!" Seonni pun menyalami eomma appanya. Begitu juga
denganku.
Seonni pun kerumahku dulu, tentu saja
kuboncengi dengan vespa-ku! Aku mau membereskan keperluanku dulu.
"Sudah sampai! Aku beresin keperluan
dulu ya! Seonni istirahat aja, anggap rumah sendiri" aku pun meninggalkan Seonni
untuk membereskan keperluan-keperluan.
***
~Seo
Ah POV~
Kupandangi sekelilingku. Ini kota? Aigo,
bagus sekali! Beda jauh dengan desaku! Maklum, aku belum pernah ke kota.
Gedung-gedung tinggi mengelilingiku. Tapi, kota ini juga asri. Banyak jalur
hijau di sini.
"Nah, Seonni. Ini yang namanya kota.
Kamu belom pernah ke sini kan?" tanya Donghae membuyarkan lamunanku.
"Ah, ne, Oppa! Seo Ah belum pernah ke
kota," jawabku polos dan jujur.
"Yasudah. Kita pulang dulu ke
rumahku," ajak Donghae oppa.
"Ne". Aku diantarkan pulang ke
rumahnya naik vespa antik kesayangannya. Walaupun jadul, tapi masih bagus!
Beberapa lama kemudian...
"Seonni! Kita sudah sampai! Ayo masuk
ke rumahku," ajak Donghae oppa. Aku masih terbengong-bengong melihat
lingkungan rumah Hae oppa. Bagus sekali. Rumah tertata rapi. Selokan juga
mengalir lancar seperti desaku. Lingkungan ini juga asri.
"Ayo, Seonni! Gwenchanayo?" Hae
oppa lagi lagi membuyarkan lamunanku. Ketika aku sadar, ternyata Hae oppa
sedang menggoyangkan tangannya di depan mukaku.
"Ah, gwenchana! Ayo masuk oppa, aku
lelah" jawabku. Aku memang lelah.
"Ne, habis ini kau tidur saja dulu ya.
Makan, lalu tidur,"
Donghae oppa pun memasakan makanan untukku.
Ramen.
"Ini ramen untukmu dan aku!"
Donghae oppa memberikanku semangkuk ramen yang terlihat... Lezat.
"Ne, gomawo oppa" aku makan
dengan lahap sekali. Aku memang lapar hahaha.
"Kau sepertinya kelaparan sekali, Seonni"
"Ne, aku memang lapar. Dan lelah. Huaaa
aku sudah kenyang, oppa! Hmm, mashita!" seruku sambil mengelus-ngelus
perutku yang sudah buncit karena kekenyangan setelah ramenku habis.
"Ayo, sini aku antarkan kau ke kamar.
Maaf ya, di sini cuma ada 1 kamar. Jadi kita tidur berdua. Aku tidur dibawah
saja dengan karpetku. Kau tidur di atas saja ya, di tempat tidurku"
Donghae oppa menarik tanganku lembut ke dalam kamarnya.
"Tidak apa-apa, oppa?"
"Tentu saja!" Hae oppa tersenyum.
Manis sekali.
"Ayo, tidur ya. Aku mau melanjutkan
makanku lagi," Donghae oppa menyelimutiku dan pergi ke ruang makan. Aku
tersenyum. Sepertinya.. Aku mencintainya.. Apa dia mencintaiku juga? Sudahlah,
aku mau tidur dulu. Aku lelah sekali...
***
~Author
POV~
Hari ini, Donghae berniat untuk mengajak Seonni
ke sebuah mall di kotanya.
"Nah, Seonni. Kau sudah siap?"
tanya Donghae dari luar kamar. Donghae tidak berani masuk ke kamar karena Seonni
sedang berganti baju.
"Sebentar lagi, oppa! Aku sedang
menguncir rambutku. Masuk saja kalau kau mau," teriak Seonni dari dalam
kamar. Donghae pun masuk ke dalam kamar yang rapi itu. Tak lama kemudian...
"Nah, sudah siap, oppa!" serunya
sambil tersenyum.
Hah?
Ini benar Seo Ah? Cantik sekali! Pakaiannya simpel tapi.. Cantik! Ditambah
rambutnya yang panjang dikuncir tinggi dengan jepit rambut. Omo~, batin Donghae.
"Oppa?" wajah Seonni mendekati
wajah Donghae.
"Ah? Eh.. Um, ne. Ayo kita
berangkat!" Donghae pun berangkat memboncengi Seonni, tentu saja pakai
helm yang SNK, Standar Nasional Korea(?) #abaikan
Setengah jam kemudian..
"Seonni mau kemana dulu? Makan? Toko
buku? Beli baju? Atau apa?" tanya Donghae.
~Seo
Ah POV~
"Seonni mau kemana dulu? Makan? Toko
buku? Beli baju? Atau apa?" tanya Donghae oppa.
"Aaa... Terserah oppa," jawabku
masih sambil bengong. Sungguh, tempat ini bagus sekali! Apa tadi namanya? Nol?
Kol? Mol? Ah seperti itulah. Bagus sekali. Coba ada tempat seperti ini di
desaku!
"Ya sudah. Kita makan dulu ya. Isi
energi dulu, hehe,"
"Baiklah, oppa"
Kami pun pergi ke sebuah restoran... Apa
itu namanya? "Steak"? Bacanya steyak ya? *eaa makannya steak ae yak,
bingung restoran apaan klo disana-_-v*
"Seonni mau pesan apa?" tanya
Donghae oppa.
"Wah, aku tidak tau. Samakan denganmu
saja, oppa. Minumnya air putih saja" jawabku. Aku memang tidak tau. Bentuk
steyak itu seperti apa ya? Setelah memesan menu, kami duduk di kursi. Lalu,
pesanan kami pun datang.
"Seonni, hati-hati ya? Ini hot plate.
Piringnya panas. Jangan sampai tanganmu terluka karena kena hot plate
itu," kata Donghae oppa memperingatiku.
"Ne," aku mulai makan. Tunggu.
Aku belum makan. Aku memerhatikan sekeliling. Orang-orang memakan steak ini
memakai pisau dan garpu. Hey, mana sendoknya? Aku harus pakai garpu? Aku tidak
mengerti!
"Oppa" bisikku.
"Apa?"
"Aku harus pakai garpu dan pisau ya?
Tidak ada sendok?"
"Ne, Seonni" jawab Donghae
tersenyum, menahan tawa tepatnya. Ah, gimana caranya? Pakai tangan sajalah!
Akhirnya aku memakan pakai tangan sambil kepanasan. Donghae oppa tertawa
melihat kelakuanku.
"Oppa, jangan tertawaaa,"
rengekku.
"Ne! Hahaha. Sini, aku potongin dulu,
kamu tinggal tusuk aja nanti pake garpu, oke?" Donghae oppa pun memotong
motongkan steyaknya. Aku tinggal menusuk dan memakannya.
"Gomawo, oppa"
"Cheonmaneyo~"
~Donghae
POV~
Sekarang, kami berdua berada di toko buku. Seonni
yang meminta. Aku turuti saja. Aku ingin membuatnya senang. Aku berada
disampingnya sekarang. Aku takut dia nyasar. Mana dia gak punya hp. Susah deh
kalo nyasar.
"Oppa, aku mau beli ini ya?" Seonni
menunjukan sebuah novel yang diambilnya.
"Terserah kau," jawabku
tersenyum.
"Oke! Aku mau ini saja oppa," Seonni
merogoh tasnya untuk mengambil uang. Tapi segera kutahan.
"Aku saja yang membayar,"
"Hah? Tidak usah Oppa! Pakai uangku
saja," tolaknya.
"Oh ayolah~ mana novelnya? Aku mau
lihat"
"Ini," aku mengambil novelnya dan
membaca sinopsisnya.
"Hm~ Kajja!" aku menarik Seonni
pelan menuju kasir.
"Aku yang bayar oke? Ssh~ kau tunggu
saja ya,"
~Seo
Ah POV~
"Aku yang bayar oke? Ssh~ kau tunggu
saja ya,"
Huff! Baru saja aku mau ngomong, Hae oppa
sudah menaruh telunjuknya di bibirku, tanda untuk diam.
"Seonni. Ini novelnya," kata
Haeppa seraya memberiku sebuah kantong plastik berisi novelku.
"Ne. Kamsahamnida, oppa"
"Cheonmaneyo~ Hm, mau ke Sungai
Han?"
***
"Oppa..."
"Ne?"
"Indah sekali ya,"
"Ne," ujar Haeppa lembut,
kemudian mengelus kepalaku.
"Seonni, na halmari isseo,"
"Hm? Sekarang juga sedang berbicara
denganku kan? Haha,"
"Haha. Benar juga. Oke. Ada yang ingin
kukatakan,"
Deg! Jantungku berdegup kencang. Apa? Apa
yang akan dikatakannya? Andwae! Aku tidak boleh kegeeran dulu ah!
"Saranghae..." ujar Haeppa sambil
mengusap kedua pipiku dan menatapku seakan akan aku adalah satu-satunya yeoja
yang tersisa di bumi ini dan tidak boleh satupun namja yg boleh mendekatiku
kecuali Donghae*gajeah*.
Tunggu!! Mukaku... Mukaku mau ditaro
dimana? Pasti merah sekali mukaku!!
"Ya~ mukamu memerah?" tanya
Haeppa berusaha menahan tawanya.
"Ya~! Oppa!" aku menggembungkan
pipiku.
"Hei. Imut sekali," Haeppa mencubit pipiku.
"Oppa~ kau sungguh mencintaiku?"
Haeppa melepaskan tangannya dari pipiku.
Kemudian ia menatap langit sore yang indah ini.
"Ne. Be mine, " Haeppa pun
menyanyikan lagu Be Mine dari Infinite. Eh kenapa jadi nyambung ke Infinite?
"Huh?"
"Seonni. Kau mau jadi yeoja chingu
ku?" tanyanya sambil menatapku dalam.
"Molla,"
"Tak apa jika kau tak bisa menjawabnya
sekarang. Kau boleh berpikir dulu," kata Haeppa sambil memain mainkan
iPhone-nya.
"Oppa. Aku... Juga mencintaimu,"
ujarku tiba-tiba. Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutku. Aku segera menutup
mulutku.
"Eh? Jinjjayo??" Haeppa
mendekatkan wajahnya ke wajahku. Aku membuang muka. Malu.
"Yaa begitulah," jawabku
seadanya. Sungguh aku malu sekali! ><
"Hahaha. Kenapa malu?" Haeppa
merangkulku dan sukses membuat jantungku seakan akan mau melompat dari
tempatnya.
"Jadi, mau tidak?"
"Mau apa?" aku berpura-pura tidak
tau.
"Mau menikah denganmu. Hahaha. Mau
menjadi yeoja chingu ku?"
"A... Ani," mata Haeppa
terbelalak.
"Wae? Kau mencintaiku juga kan? Aku
mencintaimu dan kau mencintaiku. Kenapa ditolak?"
"Aku tidak mau. Memang orang yang
saling mencintai harus berpacaran? Mianhae. Aku tidak mau. Tapi aku tetap cinta
padamu kok. Kita jadi sahabat aja ya oppa. Semua ada waktunya" jelasku
sambil tersenyum.
"Yasudahlah. Tidak apa. Hei, besok
kita akan pulang kan? Ayo pulang ke rumah. Bereskan barang-barang dan istirahat
yang cukup untuk besok,"
"Ne, oppa" Haeppa menggandeng
tanganku erat. Omona~
***
Pagi-pagi sekali, Haeppa membangunkanku.
"Seonni... Bangun! Sudah pagi. Ayo
kita pulang supaya kita tidak kena macet,"
"Ne. Aku mandi dulu ya," aku
segera mengambil handukku dan menuju kamar mandi.
***
"Selesaaaai! Oppa~ boleh kau menunggu
di luar? Aku ingin ganti baju," kataku seraya melepaskan kuciran rambutku.
"Ne! Oh ya, waktunya 1 menit ya,"
"MWO?? Gak bisaaa!!"
"Yasudah, 2 menit! Kalo tidak..."
"Apa?"
"I'll kiss you,"
"YA~!!" teriakku sambil melempar
baju kotorku ke Haeppa, tapi keburu ngehindar dan kabur-__-
Tunggu. Mana bisa 2 menit? Aku harus
handukan dulu, memakai dalaman, memakai baju. Ditambah harus mengeringkan
rambutku dulu. Aish~ Donghae Oppa!!
"Seonni~ 1 menit lagi~" teriak
Haeppa dari luar.
"Biarin aja, tinggal ngeringin
rambut," sama tinggal pake baju.
"Pokoknya 2 menit harus selesai
semua!!"
"OPPA!!"
Aku pun terburu-buru. Masalahnya nanti kalo
terlambat, aku dicium Haeppa. Bagaimana ini?? Siapapun tolong aku!
"30 detik lagi~" teriak Haeppa
dari luar. Aku mengacak rambutku kesal. Kipas(?) ini bisa gak sih mengeringkan
rambut lebih cepat??
"Habis!!" seru Haeppa sambil
nyelonong masuk kamar dan dia melihatku sedang mengeringkan rambut.
"Ya~ Oppa, jangan cium aku,"
ujarku memelas sambil menutupi mulutku. Tapi Haeppa semakin dekat denganku. Aku
mundur selangkah... 2 langkah.. 3 langkah.. Dan akhirnya langkahku terhenti karena
ada tembok.
"Tembok babo!!" seruku sambil
memukul-mukul temboknya.
"Hentikan, Seonni. Itu hanya akan
menyakiti dirimu," kata Haeppa mendekatkan wajahnya ke wajahku.
"Oppa..." bisikku panik.
Oh, Tuhan~ Omo~ Aku kaget
sekali. Ternyata dia hanya memelukku.__.
"Ya~ oppa~ kau membuatku takut!"
omelku sambil memukulnya pelan.
"Hahaha. Mana mungkin aku benar-benar
menyiumu!" tawa Haeppa. Menyebalkaaan.
"Kau kege-eran yaa?" goda Haeppa.
"Ani!" elakku. Iya sih, aku
kege-eran haha -_-"
"Yaudah. Kau sudah siapkan? Gak ada
yang ketinggalan, Seonni?"
"Sudah! Ayo kita berangkat!"
***
Sesampainya di desa...
"Wuaaaah aku kangen banget sama
desaku! Walaupun baru 2 hari, tapi kangen banget!" Tiba-tiba eh tiba-tiba,
Haeppa merangkulku erat, kemudian menarikku ke dalam pelukannya. Hangat~
"Seonni, kau sungguh tidak mau jadi
yeoja chinguku?" tanya Haeppa dengan suara bergetar. Hei, dia menangis?
Benarkah??
"Oppa? Kau menangis?"
"A.. Ani," jawab Haeppa dengan
suara yg bergetar.
"Oppa, jangan berbohong. Sudahlah, kau
jangan menangis, masa kalah sama aku!" bujukku sambil mengelus kepalanya
sambil agak melepas pelukannya.
"Seonni~"
"Oppa~"
"Ohh~" desah kami berdua kemudian
berpelukan.
~Donghae
POV~
"Ohh~" kami berpelukan. Sangat
nyaman rasanya berpelukan dengan Seonni seperti ini.
"Sudahlah, oppa. Jangan menangis lagi,
oke?" bujuk Seonni sambil mengusap airmataku. Aku ini cengeng sekali!
Srooooooot.
"Ne, Seonni." jawabku sambil
tersenyum.
"Begitu dong! Hehe," Seonni
langsung menggandeng tanganku menuju rumahnya. Tak lama kemudian...
Tok tok tok.
"Appa... Umma... Seo Ah pulaang,"
seru Seonni sambil membawaku masuk kedalam. Terus, oppa dan noona masuk ke
ruang tamu. Seonni dan aku menyalami mereka. Kemudian kami duduk disofa nyaman
ini.
"Hyung," panggilku ke leeteuk
hyung. Aku ingin menyatakan sesuatu!
"Hm?"
"Aku.. Mungkin hyung, noona, dan Seonni
akan menganggapku nekat. Tapi, aku ingin menjadikan Seonni sebagai istriku.
Dengan kata lain, aku ingin melamarnya," ujarku terus terang sambil
menunduk. Hening beberapa saat.
"Boleh saja. Bagaimana, yeobo?"
tanya oppa ke noona.
"Boleh saja. Seo Ah, maukah kau?"
Seonni diam seribu bahasa *halah*. Aku
tetap menunduk.
"Asalkan dia benar-benar mencintaiku,
I do." Seketika wajahku terangkat dengan sendirinya dan bersinar terang
layaknya sebuah kepala botak yg disinari cahaya. Silau bos!! #abaikan
"Benarkah??"
"Ne," jawab Seonni mantap.
Ahjussi dan ahjumma pun membolehkan.
Singkat
cerita~
Author
POV~
Akhirnya, Donghae dan Seonni pun menikah.
Mereka membeli sebuah rumah di kota. Bagaimana kehidupan mereka selanjutnya?
Akankah bahagia? Akankah menyedihkan? Apakah akan terus berlanjut? Apakah akan
bercerai? To be continued~.
-tbc-